Sejarah Desa

Kalau para sesupuh ada yang tau cerita asal usul desa bisa membantu kami untuk membuka sejarah tentang Sekuro.

Cerita ini banyak di jadikan referensi asal usul Desa Mlonggo dan sedikit masuk akal..
Akan tetapi sosok selain lain longgo Pati khusus di Desa Sekuro yang akan kita cari…
Seperti sosok Mbah Ngorek dan sosok sosok yang lain…
====================

Sebutan Desa “Sekuro” tdk terlepas dari sejarah Jepara dimana masa kepemimpinan Aryo Timur yang kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga. kepemimpinan Pati Unud.

Dalam wilayah Jepara Utara khusunya wilayah Honggo Sari (sekarang disebut mlonggo.) Tidak lepas dari seorang musyafir yang dijuluki oleh Ki Honggopati atau ada juga yang menyebut Ki Longgopati.

Menurut sejarah yang saat ini masih diyakini dan dijadikan beberapa asal usul desa yang ada di Jepara cerita seperti ini.

Ki Honggo Pati atau Longgo Pati adalah salah satu tokoh penting pemimpin pasukan yang ikut berperang melawan penjajah belanda semasa Pangeran Diponegoro memimpin Mataram dan setelahnya.

Daerah operasi ki Honggopati meliputi pesisir utara jawa. Beliau tidak sendiri, bersama-sama dengan Pangeran Kejoran, Pangeran Puspoyuda dan Tumenggug Bandung hingga akhir nya memenangkan pertempuran melawan penjajah.

Siapa Pangeran Kejoran

Sekilas tentang Pangeran Kejoran, beliau adalah salah satu Senopati Mataram (masa pemerintahan Sultan Agung dan Setelahnya). Beliau terkenal sebagai seorang senopati yang setia, anti penjajah dan sakti mandraguna.

Sayang, sepeninggalan Sultan Agung, Mataram sedikit condong memihak pada penjajah. Pangeran Puger dan Adipati Anom disebut-sebut mempunyai hubungan baik –bersekutu- dengan penjajah/Belanda. Inilah sebab utama mengapa Pangeran Kejoran memilih berjuang sendiri dan terjun ke daerah-daerah untuk menggalang kekuatan.

Setelah perpisahan itu, Pangeran Kejoran dianggap sebagai pembelot dan terus diburu oleh pihak Mataram dan Penjajah. Pengejaran ini berlangsung lama dan diwarnai dengan pertempuran-pertempuran sengit.

Cita-cita Pangeran Kejoran ini ternyata mendapat banyak dukungan dari orang-orang berpengaruh di wilayah pantai utara jawa. Ada tiga tokoh yang paling berpengaruh, yaitu Pangeran Puspoyudo, Tumenggung Bandung dan ki Honggopati (ki Longgopati).

Sampai saatnya pertempuran terbesar pun meletus. Penjajah mengirimkan pasukan sangat besar utuk membumi hanguskan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Kejoran dan bala tentaranya.

Strategi pun dimulai. Pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Pupoyuda menuju kewilayah timur, sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Bandung beserta ki Honggopati menuju ke sebelah utara. Ini adalah strategi jitu untuk menggempur pasukan penjajah dari dua arah atau memecah kekuatan penjajah menjadi bagin-bagian kecil.

Strategi ini membawa kemenangan besar, dan pasukan penjajah berhasil ditumpas habis. Atas keberanian dan kesaktian ki Honggopati tersebut, masyarakat menyanjung dan memberi beliau sebuah julukan, yaitu ki Longgopati.

Asal Usul Nama Desa-Desa yang ada di Mlonggo

Setelah petempuran yang sangat melelahkan itu ki Longgopati bersama pasukannya meneruskan perjalaanan dan sampailah serta beristirahat di suatu daerah dimana disetiap pekarangan rumah penduduk tumbuh jenis tanaman yang buahnya sangat enak dan menyegarkan.

Masyarakat di daerah itu menyambut kedatangan pasukan dengan suka cita. Tidak hanya itu, ki Longgopati memberi nama buah yang dimakan itu dengan sebutan buah “Jambu” yang pada akhirnya digunakan untuk menyebut sebuah daerah yang saat ini disebut dengan desa “Jambu”

Lama bertempat di daerah jambu, ki Longgopati bertemu, berteman dengan seorang ulama yang tinggal disebuah dukuh. Masyarakat biasa menyebut beliau dengan ki Agung Alim Joyo Kusumo.

Ki Agung Alim Joyo Kusumo mempunyai sebuah bilik –padepokan- yang terletak di desa Sinanggul, yaitu sebuah dukuh yang oleh masyarakat setempat disebut dukuh Sentono.

Beliau mempunyai dua orang istri, istri pertama bernama Nyi Ronggowinih yang sekarang petilasannya dikenal dengan nama Mbah Buyut Kawak. Petilasan tersebut terletak di desa Kawak.

Sedangkan istri kedua bernama Nyi Kayu Wayang, petilasannya ada di desa Srobyong. Masyarakat sekitar sering beliau dengan Buyut Kayu Wayang atau Mbah Buyut Sentono Srobyong, itu merujuk pada orang yang sama.

Adapun petilasan ki Agung Alim sendiri terletak di dukuh Sentono Sinanggul yang terkenal dengan sebutan Mbah Agung Alim Joyo Kusumo Sentono Sinanggul. Selain iti ki Agung Alim juga mempunyai teman seekor harimau yang diberi nama ki Loreng.

Setelah peperangan sengit dengan Kompeni Belanda usai, Ki Agung Alim menyarankan kepada Ki Longgo Pati untuk bersyukur kepada yang Maha Kuasa. Kemudian Ki Longgo Pati meminta kepada Ki Agung Alim supaya dibuatkan tumpeng yang besar, maka Ki Agung Alim segera pulang dengan menaiki Ki Loreng, menuju rumahnya.

Sesampai di rumah, Ki Agung Alim segera mempersiapkan segala kebutuhan syukuran dengan memerintahkan para santrinya. Dalam waktu satu malam persiapan itupun selesai, sehingga salah satu santrinya segera menghadap Ki Agung Alim untuk menyampaiakan bahwa tumpengnya sudah siap.

Disitulah ki Agung Alim menanyakan tentang ikan yang saat itu memang belum termasuk dalam tumpeng. Melihat tidak ada ikan dalam hidangan, Ki Agung Alim pun memerintahkan santrinya ke pantai tempat berlabuhnya para pencari ikan.

Nahas, seharian penuh menunggu, tidak satupun pemancing yang lewat, sampai santri itupun merasa kelaparan dan kehausan atau ngelak (jawa). Maka di kemudian hari tempat tersebut dikenal dengan nama dukuh Ngelak.

Dalam keadaan yang hampir putus asa dan hampir kembali ke Sentono, tiba-tiba lewatlah seorang pemancing yang membawa kepis besar berisi penuh ikan. Santri itupun segera menghampiri dan bermaksud membelinya. Tapi niat itu tidak ditanggapi dengan berbohong bahwa apa yang ada di kepis itu adalah buah gathel.

Hingga hari gelap tidak ada juga pemancing yang lewat. Santri itupun pulang dan menghadap Ki Agung Alim. Tentu saja dengan tangan kosong, tanpa ikan satu pun. Santri itupun menceritakan bahwa sebenarnya ada satu orang yang pulang dengan membawa kepis penuh, tapi katanya tidak berisi ikan, melainkan buah gathel.

Karena Ki Agung Alim adalah sosok yang makrifat, Beliau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya kepis itu berisi penuh ikan dan orang tadi berbohong kepada santrinya. Ki Agung Alim pun marah besar.

Seketika itu, tiba-tiba datanglah angin yang sangat besar sehingga semua peralatan dapur yang digunakan memasak kebutuhan tumpengpun kocar-kacir. Hanya tersisa tiga batu tumangnya saja yaitu watu tumang yang saat ini berada di tengah persawahan di desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara.

Peralatan dapur yang lainnya tersebar dimana-mana dan jatuh di beberapa daerah yang saat ini menjadi dukuh, bagian dari desa jambu.

Dandangnya jatuh di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Jambu Sedandang. Piringnya jatuh di Daerah Ujung Piring. Kekepnya jatuh di daerah Jambu Sekekep. Lampingnya jatuh di daerah Kedung Lamping dan pasonya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Paso.

Nasi tumpengnyapun berubah menjadi gunung yang sekarang di kenal dengan Gunung Tumpeng.

Sedangkan tempat di mana Ki Longgo Pati membuat syukuran, dikemudian hari dikenal dengan nama Sekuro. Sedangkan pemancing yang tadi berbohong kepada santri, sesampainya di rumah semua ikannya berubah menjadi buah gathel. Pemancing itupun terkejut serta takut, kemudian segera menemui Ki Agung Alim untuk minta maaf.

Walapun tumpeng gagal dibuat, Ki Agung Alim tetap menemui Ki Longgo Pati di rumahnya untuk minta maaf dengan ditemani Ki Loreng. Sesampai di halaman rumah Ki Longgo Pati, ternyata sudah ada banyak orang yang menunggu dengan membawa makanan dan buah-buahan untuk mengikuti acara syukuran.

Hingga sekarang halaman rumah Ki Longgo Pati tetap ramai karena menjadi sebuah pasar yang diberi nama Pasar Honggo Sari atau Longgo Sari atau Mlonggo Sari. Pada masa Bapak Sukahar menjabat Bupati Jepara, pasar itu diubah menjadi pasar Mlonggo, Jepara.

Setelah Ki Agung Alim bertemu Ki Honggo Pati dan meminta maaf, acara syukuran tetap dilaksanakan dengan ala kadarnya walaupun tanpa tumpengan. Untuk menjaga serangan dari kompeni Belanda maka Ki Agung Alim menugaskan Ki Loreng untuk mengawasi di penyeberangan yaitu di sungai di daerah yang sekarang bernama Sinanggul Mlonggo.

Entah apa yang dikatakan Ki Agung Alim pada Ki Loreng, hingga sekarang Harimau tersebut masih patuh dan berubah menjadi batu besar yang bentuknya mirip sekali dengan Harimau. Batu tersebut dikenal dengan nama Watu Celeng. Wallahu a’lamu bisshowaab.